Sejarah Singkat Yayasan
Formulir Aplikasi
 
 
KMA-PBS Terus Dukung Yayasan Supersemar

04 Maret 2008



Para mantaan penerima beasiswa pendidikan dari Yayasan Supersemar yang tergabung dalam KMA-PBS (Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar) kini sudah banyak menjadi orang sukses. Bahkan, mereka pun masih memegang teguh semangat kegotongroyongan dan rasa nasionalisme yang dulu ditanamkan Yayasan Supersemar. ”Benar sekali itu masih terus membekas di hati para alumni yang tergabung dalam KMA-PBS,” kata Ketua Umumnya KMA-PBS Drs Eddy Djauhari, Msi.

Menurut alumni penerima beasiswa Supersemar yang kini bekerja di Sekretariat Negara, tepatnya di Sekretariat Militer, berkat semangat kegotongroyongan dan rasa nasionalisme itu pula membuat para alumni yang tergabung dalam forum yang dipimpinnya itu membuat berbagai kegiatan untuk masyarakat luas melalui perannya dalam bidang sosial kemasyarakatan dan kepedulian di bidang pendidikan.
Ditambahkan Eddy, ada istilah program berantai. Maksudnya, para anggota KMA-PBS tiap bulan menyisihkan sebagian penghasilannya dikumpulkan untuk membantu para siswa SMA berprestasi dan kalangan kurang mampu agar tak putus ditengah jalan pendidikannya. ”Ini satu perbuatan cukup mulia sebagai wujud kepeduliannya,” ujarnya.
Ia memaparkan, dulu para sarjana mantan penerima beasiswa Supesemar ini juga ikut membantu pemerintah dalam satu tugas di daerah-daerah tertinggal. Para sarjana ini, kata Eddy, dilatih untuk penyesuaian dan mendampingi kelompok masyarakat di desa. Dengan modal Rp 20 juta per desa dibuatlah beragam program mulai dari mengajak mereka lebih mengenal Indonesia. Pasalnya, ujar dia, seperti di Kalimantan yang berbatasan dengan malaysia, mereka lebih hafal tentang Malaysia melalui siaran televisinya dan tidak tahu tentang Indonesia, termasuk bendera merah putih.
”Pada kesempatan ini mereka membantu pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, khususnya di daerah tertinggal. Caranya mereka mengumpulkan 1.000 orang sarjana untuk mengabdi di pedalaman, seperti di daerah perbatasan di Irian jaya, Nias, Kalimantan dan beberapa wilayah lainnya,” urainya.
Selain itu, imbuh dia, ada juga pendampingan untuk kesejahteraan masyarakat dengan beragam kegiatan ekonomi kecil, pendidikan dan lain-lain. Selama tiga tahun mengabdi para sarjana ini digaji Rp 150.000/bulan. Mereka memiliki prinsip pengabdian lebih mendalam ketimbang materialisme. Ini dilakukan sampai kontrak selesai pun banyak yang memutuskan tinggal di desa bersangkutan. Bahkan sampai ada yang mendapat jodoh di sana.

Dampingi TKI
Jika saat masih hangat-hangatnya lulus sarjana para alumni penerima beasiswa Supersemar ini ”mengabdi dan bertugas” di daerah tertinggal. Dengan tujuan membantu memajukan daerah tertiggal tersebut ke arah yang lebih baik. Maka, kedepan KMA-PBS akan membantu pemerintah untuk mendampingi TKI, karena banyak TKI bermasalah dan perlu sosialisasi tentang masalah-masalah yang mungkin timbul jika bekerja di luar negeri. ”Para alumni yang menjadi lawyer (pengacara) yang akan mengadvokasinya. Ini gratis,” kata Eddy.
Sebagai orang yang pernah dibantu biaya pendidikannya, sebagai alumni Eddy pun tak lupa juga menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Yayasan Supersemar karena secara pribadi, dirinya terbantu mendapatkan beasiswa ditahun 1978 senilai Rp 12.500/ bulan, waktu itu biaya kost plus makan perbulan Rp 9.000, jadi ada sisa Rp 3500 untuk biaya sekolah. Pastinya hal yang sama dirasakan oleh ratusan mahasiswa lain waktu itu.
”Saya berharap kepada Yayasan Supersemar agar beasiswa yang sekarang ini diberikan ke penerima bisa ditingkatkan, karena saat ini biaya pendidikan mahal,” ujarnya seraya berdoa semoga bisa terealisasi.
Hingga saat ini, setidaknya Yayasan Supersemar sudah melahirkan hampir 100 ribu lulusan S1, hampir 60 lulusan S2 dan ribuan lagi lulusan S3. Para alumninya pun kini sudah jadi orang sukses seperti bupati, pengacara, direktur, menteri, rektor, ulama dan lain-lain tetap mendukung gerakan dan misi yang diemban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini membuktikan sumbangsih yang diberikan Yayasan Supersemar mampu memberi kontribusi penting dalam sumber daya manusia pembangunan.
Wajar, jika sampai saat ini pun masih sangat banyak masyarakat berharap bisa mendapat bantuan beasiswa pendidikan dari Yayasan yang didirikan HM Soeharto ini. HAR



     
  >> SUPERSEMAR DAN PEMBANGUNAN SDM
  >> Yayasan Supersemar “Almamater” Kebanggaan
  >> Berkat Supersemar, Suaib Raih Gelar Insinyur
  >> Beasiswa Supersemar Terus Mengucur
  >> Beasiswa Supersemar Terus Mengucur
  >> KMA PBS Tetap Dukung Gerakan dan Misi Yayasan Supersemar
  >> Beasiswa Selama 32 Tahun Tanpa Henti
  >> Drs Nurdin, Alumni FISIP Unhas; Beli Sajadah, Mensyukuri Berkah
  >> Ketua Umum KMA PBS Drs Eddy Djauhari, MSi: Yayasan Supersemar Sebagai Lumbung Beasiswa
  >> BEASISWA Yayasan Supersemar Diminta Dipertahankan

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra
design by
Visionnet
Update by Suwandi Yesaya (suwandiy@vision.net.id) 25 Sept 2003