Sejarah Singkat Yayasan
Formulir Aplikasi
 
 
BEASISWA SUPERSEMAR Suatu Bantuan Studi Yang Memupuk Watak

29 Desember 2000



Dengan senang hati saya sambut permintaan Saudara Sekretaris Yayasan Supersemar untuk menulis suatu artikel kecil dalam rangka peringatan Ulang Tahun Yayasan ke-15, meskipun sebelumnya saya perlu mengungkap catatan-catatan lama untuk menyegarkan ingatan serta kesan-kesan kembali, khususnya pengalaman keikutsertaan dalam penentuan alokasi Beasiswa Supersemar kepada Perguruan-perguruan Tinggi dan seterusnya kepada para mahasiswa pelamar yang memenuhi persyaratan sebagai penerima beasiswa.

KEMAMPUAN PEMBIAYAAN SEBAGAI FAKTOR HAMBATAN STUDI

Ketika menjabat Rektor ITB dan selanjutnya sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, saya cukup banyak mempelajari hal-ikhwal masalah serta hambatan studi para mahasiswa, di mana aspek pembiayaan yang diperlukan untuk biaya hidup maupun biaya pendidikan merupakan faktor hambatan paling umum yang dihadapi para mahasiswa.
Cukup banyak mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik baik, terutama yang harus mencari pondokan di tempat studi, harus hidup dalam keadaan serba kekurangan, bahkan tidak sedikit pula yang harus belajar dalam ketidaktentuan sumber biaya hidup. Malahan saya pernah jumpai beberapa kasus mahasiswa pada tingkat tahun akhir studi, yang sebenarnya tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan siang malam ada di kampus, yakni pagi dan siang hari mengikuti pelajaran atau membaca di perpustakaan, sedangkan malam harinya bekerja di laboratorium atau studio dan terus tidur hingga pagi harinya, ia harus bergegas merias diri sebelum mahasiswa-mahasiswa lain mulai berdatangan ke kampus. Cara hidup dalam kondisi seperti itu dapat dipertahankan lebih dari satu tahun.
Beberapa kasus kami maklumi pula, di mana mahasiswa oleh orang tua atau keluarga di daerahnya hanya dibekali modal studi satu kali saja pada waktu berangkat dan selanjutnya diharapkan bahwa seterusnya ia dapat menolong diri sendiri dengan mencari sumber dana bagi studi dan hidupnya.

BERBAGAI MACAM BEASISWA
Maka beasiswa atau bentuk-bentuk bantuan dana lain bagi studi, sangatlah didambakan oleh para mahasiswa yang haus belajar dan ingin maju tetapi keadaannya serba kekurangan itu, ibarat mencari suatu anak-tangga tambahan titian yang meningkatkan kemampuan jangkauan mereka untuk mencapai cita-citanya.
Berbagai macam beasiswa, baik dari instansi pemerintah maupun dari berbagai pihak swasta memang sudah sejak lama menjadi sumber bantuan yang dikenal oleh parn mahasiswa dan cukup besar jumlah mereka yang dapat menyelesaikan studinya dengan baik, berkat bantuan studi itu. Namun, sumber-sumber bantuan tersebut masih sangat kurang untuk dapat memenuhi jumlah permintaan akan beasiswa yang sebenarnya. Sudah barang tentu, persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh suatu sumber beasiswa dan adanya semacam "preferensi" dari pihak mahasiswa sendiri untuk mengadakan suatu "transaksi" dengan suatu sumber dana bantuan, merupakan semacam seleksi dalam penentuan penerima beasiswa secara aktual. Landasan tujuan serta harapan-harapan yang terkait pada berbagai macam beasiswa, banyak ragamnya: ada yang mengikat, bahkan merupakan berbagai bentuk ikatan dinas atau kewajiban-kewajiban lainnya, tetapi ada pula yang tanpa sesuatu ikatan. Namun, sudah barang tentu semua macam beasiswa itu, paling sedikit sama dalarn harapannya, yakni bahwa para beasiswan dapat menunjukkan prestasi akademik baik dan menyelesaikan studinya pada waktunya serta mempertanggungjawabkan pemakaian dana itu dengan tepat pula.
Alasan dari pihak mahasiswa sendiri untuk memilih suatu macam beasiswa, di sampingnya ia dapat memenuhi persyaratan-persyaratan umum, ada aspek-aspek lain pada sesuatu sumber dana yang membangunkan afinitas lebih besar kepadanya untuk memilih beasiswa itu. Besarnya beasiswa, kelonggaran serta kemudahan p ngaturan, kesempatan kerja serta manfaat-manfaat lain yang ia harapkan diperoleh di kemudian hari merupakan hal-hal yang wajar diperhitungkan para mahasiswa pelamar, namun di samping itu terdapat pula pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya ideal, yang dirasakannya sesuai dengan proses pengembangan identitas dirinya.
Cukup banyak pula mahasiswa yang lebih tertarik akan bantuan dana studi, yang bersifat semacam kredit pinjaman dana studi, yang diberikan oleh bank, karena mereka merasa lebih mandiri di mana mereka dengan kekuatan sendiri bila sudah tamat belajar dan bekerja kelak dapat mengangsur dan mengembalikan dana pinjaman tersebut.

KEUNIKAN BEASISWA SUPERSEMAR
Pada tahun 1975 untuk pertama kali beasiswa Supersemar diperkenalkan, di mana untuk ITB saya selaku rektornya mendapat kehormatan untuk memilih calon-calon penerima beasiswa sebanyak 113 orang dengan alokasi per orang Rp12,500,00 per bulan.
Sebagaimana biasa, suatu sumber dana beasiswa pada waktu diintroduksikan di kalangan mahasiswa, mengundang pertanyaan-pertanyaan mengenai kriteria, syarat-syarat dan lain sebagainya, maka demikian pula halnya dengan beasiswa Supersemar. Memang nama beasiswa itu saja dengan sendirinya menggugah suatu pengertian dan persepsi tertentu. Peristiwa Sebelas Maret 1966 serta hakikat dan artinya dalam kelangsungan sejarah bangsa dan negara, dengan sendirinya akan terkilas dalam pikiran yang menaruh perhatian akan beasiswa itu.
Hal inilah dan persyaratan-persyaratan utama yang ditetapkan bagi pemohon serta harapan-harapan yang diutarakan oleh para pendiri, pengurus dan donatir Yayasan, memberikan kepada Beasiswa Supersemar suatu ciri yang unik, yakni yang menyangkut pembangunan watak dan pribadi manusia cendekiawan Indonesia yang berbudi luhur di samping sukses dalam bidang studinya. Menjadi generasi penerus yang percaya kepada kemampuan dirinya, sadar akan kewajibannya sebagai warga negara cendekiawan Indonesia untuk meneruskan perjuangan para patriot pendahulu dalam membangun Nusa dan Bangsa.
Sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang secara ex-officio juga mendapat kehormatan untuk duduk sebagai Pengurus Yayasan Supersemar saya berkesempatan untuk mengikuti perkembangan penyelenggaraan bantuan beasiswa Supersemar kepada para mahasiswa perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, pada kurun waktu tahun 1976-1984. Suatu tugas yang menyenangkan, karena di samping melihat pertambahan jumlah beasiswa dan pembagiannya pun lebih menyebar tampak pula usaha para penerima beasiswa sendiri untuk mengembangkan semacam identitas yang sesuai dengan harapan ideal (raison d'etre) yang terkandung di dalam beasiswa Supersemar itu. Misalnya adanya kesadaran dan kesetiakawanan untuk memupuk dana sendiri dan membantu teman belajar lain, serta dibentuknya semacam organisasi ikatan beasiswa dan alumninya.

KELUWESAN MANAJEMEN PENGURUS
Sangat menggembirakan pula kiranya adalah keluwesan sikap pada pengurus Yayasan Supersemar, yakni kesediaan untuk secara terus menerus mengkaji sasaran penerima beasiswa yang paling tepat. Misalnya bagi Pendidikan Tiriggi, di mana Indonesia telah beralih dari sistem pendidikan tinggi monostrata kepada sistem pendidikan tinggi multistrata dengan pendidikan pada strata S2 dan S3 merupakan pendidikan formal, maka keputusan Yayasan Supersemar untuk juga dapat membantu para tenaga pengajar yang sedang meningkatkan kemampuannya dengan belajar pada kedua strata tersebut, sungguh merupakan kebijaksanaan yang tepat. Biaya survai dengan konsekuensi biaya transportasi, biaya penelitian serta biaya reproduksi tesis dan disertasi, seringkali merupakan hambatan yang sangat sukar untuk dipecahkan oleh para mahasiswa pascasarjana.

BEBERAPA SARAN
Mengingat adanya program yang teratur bagi peningkatan kemampuan para peneliti muda (pada lembaga penelitian) melalui pendidikan formal S2 S3 di dalam negeri, maka kiranya akan tepat pula bila kepada mereka melalui lembaga penelitian induknya seperti LIPI, BPP Teknologi dan lain sebagainya dapat pula diberikan bantuan. Sedangkan cara penyampaian bantuan tersebut akan lebih efektif bila dapat disampaikan dengan pola yang sama seperti bagi mahasiswa Sl, yakni secara bulanan, terutama kepada para mahasiswa pascasarjana yang tidak mendapatkan beasiswa Tim Manajemen Program Doktor (TMPD).
Alangkah baiknya pula bila bagi para siswa SMTA terdapat kemungkinan pula untuk dipertimbangkan pemberian beasiswa bagi mereka yang diidentifikasikan mempunyai potensi (kepribadian dan akademik) untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Identifikasi tersebut dapat dilaksanakan dengan berbagai cara penelusuran bakat (talent-scouting), di mana prestasi mereka pada misalnya kegiatan-kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) dapat dipakai sebagai ukuran pula.
Keunikan beasiswa Supersemar dalam merangsang pembangunan watak, seyogyanya dapat lebih ditelaah dan dikembangkan lebih lanjut, misalnya melalui penyaluran inisiatif dan kreativitas para penerima beasiswa serta para alumninya sendiri, dan secara Tut Wuri Handayani diayomi oleh para pendidik. Ikatan para beasiswan dan alumni yang sudah ada, merupakan suatu wahana yang baik untuk keperluan itu, dan seyogyanya diberikan arti yang lebih nyata.

PENUTUP
Di dalam eksistensi hidupnya selama lima belas tahun, Yayasan Supersemar dengan khususnya program beasiswa Supersemar, telah menunjukkan manfaatnya serta memberikan saham yang sangat berarti dalam pembangunan sumber daya manusia, generasi penerus yang cendekia. Semoga para alumninya benar-benar dapat menunjukkan bakti bagi masyarakat dan negaranya. Selamat berulang tahun kepada Yayasan Supersemar semoga darma baktinya selalu mendapat limpahan taufik dan hidayah Allah SWT.


     

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra
design by
Visionnet
Update by Suwandi Yesaya (suwandiy@vision.net.id) 25 Sept 2003